Friday, July 17, 2026

Tak Cuma Kawah Ijen, Banyuwangi Kaya Akan Wisata Alam dan Budaya


Banyuwangi, Juli 2026 — Selama ini, banyak perjalanan ke Banyuwangi dimulai dengan satu tujuan: mendaki Kawah Ijen untuk menyaksikan fenomena blue fire. Setelah itu, sebagian wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Padahal, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut memiliki cukup banyak alasan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama. Dalam beberapa hari, perjalanan dapat berubah dari kawasan vulkanik menuju hutan trembesi, savana, perkebunan, desa adat, pantai, hingga dunia bawah laut di perairan antara Banyuwangi dan Bali Barat.

Peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya jumlah kunjungan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat wisatawan nusantara bertambah dari 3,28 juta orang pada 2024 menjadi 3,50 juta orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari sekitar 122.900 menjadi hampir 167.000 orang.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi semakin dikenal sebagai tujuan wisata. Tantangannya kini bukan hanya menarik orang datang, tetapi juga membuat mereka menjelajahi lebih banyak tempat dan memperpanjang lama tinggal.

Lanskap yang Berubah dalam Satu Perjalanan Kawah Ijen masih menjadi magnet utama Banyuwangi. Destinasi ini dikenal dengan blue fire, fenomena yang terjadi ketika gas belerang bersuhu tinggi keluar dari celah kawah lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.

Pendakian biasanya dimulai saat hari masih gelap. Setelah menyaksikan api biru, wisatawan menunggu cahaya pagi membuka pemandangan danau kawah berwarna hijau kebiruan serta dinding vulkanik di sekelilingnya. Kawasan Ijen juga menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2023.

Beberapa jam perjalanan dari kawasan pegunungan, suasananya sudah berubah.
De Djawatan menghadirkan deretan pohon trembesi berukuran besar yang membentuk kanopi alami. Akar dan cabang yang menjuntai memberi kawasan ini suasana menyerupai hutan dalam film fantasi.

Di Taman Nasional Baluran, pemandangan berganti menjadi hamparan Savana Bekol dengan Gunung Baluran di kejauhan. Kawasan ini juga memiliki hutan evergreen, Pantai Bama, dan mangrove yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Pilihan lain terdapat di Perkebunan Kalibendo, yang dapat dijelajahi menggunakan kendaraan 4WD melewati kawasan kopi, cengkeh, dan karet. Menjelang sore, perjalanan dapat diteruskan ke perbukitan Kawah Wurung untuk menikmati matahari terbenam.

Dalam satu hari, lanskap Banyuwangi dapat berubah dari perkebunan yang sejuk menjadi perbukitan terbuka tempat cahaya sore jatuh di atas padang rumput.
Budaya Osing yang Tetap Hidup
Di antara perjalanan alam, Desa Adat Osing Kemiren menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat rumah tradisional, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat Osing yang masih mempertahankan budaya dan kebiasaannya.

Pengunjung dapat menikmati kopi yang diolah secara tradisional, mencicipi makanan lokal, melihat pertunjukan seni, atau berinteraksi langsung dengan warga. Pada waktu tertentu, desa ini menjadi lokasi berbagai agenda budaya, seperti Ngopi Sepuluh Ewu, Tumpeng Sewu, dan Barong Ider Bumi.

Kemiren menunjukkan bahwa budaya tidak harus hadir sebagai pertunjukan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tradisi tetap berlangsung di rumah, dapur, ruang pertemuan warga, dan berbagai kegiatan yang diwariskan lintas generasi.

Ketapang Membuka Jalur Wisata Bahari
Posisi Banyuwangi di tepi Selat Bali membuka peluang wisata bahari yang belum selalu masuk dalam rencana perjalanan wisatawan.

Dari kawasan Ketapang, perjalanan laut dapat diarahkan menuju Pulau Tabuhan, Pulau Menjangan, dan perairan Taman Nasional Bali Barat. Pilihan ini memungkinkan wisatawan menggabungkan perjalanan ke pegunungan, desa adat, dan bawah laut dalam satu kunjungan.

Pulau Tabuhan menawarkan pantai berpasir putih dan perairan jernih. Sementara itu, Pulau Menjangan dikenal dengan dinding karang yang turun dari perairan dangkal menuju laut lebih dalam.
Di antara terumbu karang dan kipas laut, penyelam dapat menjumpai gerombolan jackfish dan fusilier, batfish, penyu, belut moray, lionfish, serta nudibranch. Pada kondisi tertentu, barracuda, pari, dan hiu karang juga dapat terlihat, meski perjumpaan tetap bergantung pada musim dan keadaan laut.

Potensi tersebut mulai dimanfaatkan oleh pelaku wisata di kawasan Ketapang melalui paket perjalanan yang menghubungkan destinasi darat, budaya, dan aktivitas bahari. Salah satunya adalah Ketapang Indah Hotel, yang berada di tepi Selat Bali dan memiliki akses menuju sejumlah titik keberangkatan wisata laut.
“Banyak tamu awalnya datang ke Banyuwangi hanya untuk melihat Kawah Ijen. Setelah kami bantu menyusun itinerary, mereka baru menyadari masih banyak destinasi lain yang layak dijelajahi.

Setiap kawasan menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga Banyuwangi sebenarnya bisa dinikmati selama beberapa hari,” ujar Veronica, pemilik Ketapang Indah Hotel.

Menurut Veronica, wisatawan kini cenderung mencari perjalanan yang lebih mudah direncanakan dan tidak terputus-putus. Karena itu, keterhubungan antara destinasi, akomodasi, transportasi, dan operator wisata menjadi semakin penting.
Pendekatan tersebut tidak berarti hotel harus menjadi pusat perjalanan. Perannya lebih sebagai penghubung agar wisatawan dapat mengakses beberapa jenis pengalaman tanpa harus menyusun seluruh kebutuhan secara terpisah.

Ketapang Indah Hotel, misalnya, menawarkan perjalanan menuju destinasi darat seperti De Djawatan, Baluran, Kemiren, Kalibendo, dan Kawah Wurung, kemudian melanjutkannya dengan aktivitas bahari menuju Tabuhan dan Menjangan. Rangkaian tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku akomodasi dapat membantu wisatawan menjelajahi Banyuwangi dengan waktu yang lebih efisien.

Menginap, Menikmati Sunrise, dan Mengenal Cita Rasa Lokal
Pengalaman wisata Banyuwangi tidak berhenti ketika pengunjung kembali dari gunung, desa, atau laut. Akomodasi, suasana pesisir, dan makanan lokal ikut membentuk kesan perjalanan.

Berada tepat di tepi pantai, Ketapang Indah Hotel menawarkan pemandangan Selat Bali dan suasana taman tropis. Dari area pantai hotel, tamu dapat menyaksikan matahari terbit pada pagi hari, salah satu pengalaman yang lekat dengan julukan Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

Kehadiran akomodasi yang bersih, rapi, dan terawat menjadi penting bagi wisatawan yang menjalani perjalanan padat. Pelayanan yang responsif juga membantu, terutama ketika tamu harus berangkat dini hari menuju Ijen atau menyiapkan aktivitas bahari.

Kuliner menjadi bagian lain yang memperkuat pengalaman daerah. Rujak soto mempertemukan bumbu kacang yang manis-pedas dengan kuah soto hangat. Pecel pithik memadukan ayam dengan kelapa parut berbumbu dan erat dengan tradisi masyarakat Osing. Sementara itu, ayam gobyos dikenal melalui rasa pedasnya.

Sejumlah menu lokal tersebut juga disajikan di Ketapang Indah Hotel, bersama ayam betutu yang mencerminkan kedekatan geografis dan pertukaran cita rasa antara Banyuwangi dan Bali.
Bagi wisatawan, makanan lokal memberi cara lain untuk mengenal suatu tempat. Perjalanan tidak hanya tersimpan melalui foto-foto destinasi, tetapi juga melalui rasa yang melekat setelah kunjungan berakhir.

Pada periode tertentu, tamu Ketapang Indah Hotel juga dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik di kawasan pantai hotel. Aktivitas tersebut memperkenalkan wisatawan pada upaya menjaga kehidupan dan ekosistem pesisir, sekaligus memberi dimensi edukasi pada pengalaman menginap.

Banyuwangi memang masih memiliki Kawah Ijen sebagai ikon terkuat. Namun, perkembangan pariwisatanya menunjukkan bahwa daerah ini menawarkan cerita yang lebih panjang daripada satu pendakian untuk menyaksikan blue fire.

Hutan, savana, perkebunan, budaya Osing, kuliner lokal, dan akses menuju dunia bawah laut memberi wisatawan lebih banyak alasan untuk tinggal. Ke depan, keberhasilan pariwisata Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang datang, tetapi juga oleh kemampuan destinasi dan pelaku industri menghubungkan berbagai pengalaman tersebut secara nyaman dan bertanggung jawab. 


Artikel ini telah tayang di 
Media Kesehatan 


Editor : Qurrota A'yun 



Monday, June 29, 2026

Kolaborasi Pruf Ritz dan Surplus Indonesia Edukasi 100 Siswa Sookses School Grogol soal Lingkungan dan Food Waste



Jakarta, Juni 2026 – Sebanyak sekitar 100 siswa Sookses School di Grogol, Jakarta Barat, mengikuti kegiatan edukasi lingkungan dan pengurangan food waste yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara Pruf Ritz Communications Hub dan Surplus Community. Kegiatan yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah tersebut menghadirkan pembelajaran interaktif mengenai pemilahan sampah, kepedulian lingkungan, serta pentingnya mengurangi pemborosan pangan sejak usia dini.

Acara diawali dengan sesi edukasi mengenai dampak limbah makanan terhadap lingkungan yang dibawakan oleh tim Surplus Community, dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai cara memilah sampah organik dan anorganik di rumah. Untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan, para siswa diajak mengikuti berbagai permainan edukatif dan aktivitas kelompok lewat gambar berwarna yang mendorong mereka berpikir kritis sekaligus berani menyampaikan pendapat. 

Founder Pruf Ritz, Alfawzia Nurrahmi, menjelaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian terhadap sesama. “Pendidikan juga tentang membangun empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa kita hidup berdampingan dengan sesama manusia, hewan, dan lingkungan. Karena itulah kami memilih menghadirkan kegiatan yang dapat menanamkan kepekaan tersebut sejak dini,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi momen spesial bagi Alfawzia yang memilih merayakan pertambahan usianya bersama para siswa Sookses School dan juga tim Pruf Ritz di Jakarta dan Surplus Community. Setelah sesi edukasi dan permainan selesai, seluruh peserta menikmati makan siang bersama berupa nasi kuning, kue ulang tahun, aneka jajanan tradisional Indonesia, serta jus buah dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. “Senang ikutan games memilah sampah dengan kakak-kakak volunteer yang baik dan cantik,” ujar Kila, 7 tahun, salah satu siswi Sookses School. “Sering-sering main ke sini, ya, Kak.”

Founder Surplus Indonesia, Muhammad Agung Saputra, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas komunitas seperti ini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda sejak dini.

"Kegiatan yang digagas oleh Pruf Ritz menjadi pengalaman yang hangat dan penuh makna. Sebagai komunitas yang berfokus pada edukasi pangan berlebih, Surplus Community turut hadir untuk mendampingi adik-adik belajar melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, termasuk dengan kehadiran Gerobak JuLing (Juicible Keliling) di sekolah-sekolah. Kami berharap dapat terus konsisten menghadirkan program edukatif yang bermanfaat dan menjangkau lebih banyak anak," tambah Zuleika Almira, Brand Store Manager Surplus Indonesia.

Sementara itu, Pendiri Sookses School yang juga berprofesi sebagai Praktisi Digital Marketing, Dewa Klasik Alexander, mengungkapkan rasa syukurnya: “Terima kasih atas kebaikan hati dan kunjungannya di Sookses School. Percayalah, apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Pruf Ritz dan Surplus pada hari ini akan membekas di kenangan dan hati siswa-siswi kami. Akan ada dari mereka yang mengingat nilai-nilai kebaikan yang sudah diajarkan, membawanya dalam keseharian hingga kelak dewasa, bahkan menyampaikannya kepada orang lain. Nilai kebaikan kalian akan terus tumbuh."

Sookses School sendiri merupakan sekolah nirlaba yang didirikan oleh Dewa untuk menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi anak-anak duafa dan yatim di Jakarta Barat melalui pendekatan learning through play. Setelah sempat menghadapi berbagai tantangan, sekolah ini kembali aktif sejak tahun 2021 dan terus melayani anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik.

Bagi Pruf Ritz, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan nilai-nilai sosial di masyarakat. Selain bergerak di bidang layanan bahasa dan komunikasi profesional, Pruf Ritz secara aktif mengembangkan program pelatihan, magang, pengembangan keterampilan kerja, kolaborasi kampus-industri, serta berbagai kegiatan sosial yang melibatkan mahasiswa, profesional, hingga komunitas bisnis terkemuka di Indonesia hingga mancanegara.

Melalui kolaborasi bersama Sookses School dan Surplus Indonesia, Pruf Ritz berharap semakin banyak pihak dari kalangan bisnis, pendidikan, komunitas, maupun masyarakat umum yang terlibat dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan melalui pendidikan, kepedulian lingkungan, dan aksi nyata yang dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Tentang Pruf Ritz Communications Hub
Dirintis pada 2011 dan berdiri secara resmi pada 2017, Pruf Ritz Communications Hub merupakan perusahaan penyedia layanan bahasa, komunikasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia dengan perwakilan di Jakarta dan Surabaya. Dengan jaringan mitra nasional dan internasional, Pruf Ritz melayani kebutuhan penerjemahan tersumpah, penerjemahan profesional, interpreting, proofreading, copywriting, subtitling, pelatihan bahasa, dan berbagai solusi komunikasi lintas budaya dalam lebih dari 30 pasang bahasa yang mendukung komunikasi dan kolaborasi lintas budaya bagi individu, institusi, organisasi, dan perusahaan.


Artikel ini telah tayang di
Media Kesehatan 


Monday, December 22, 2025

Meningkatnya Kasus Batu Ginjal Dorong Minat terhadapHerbal Pendukung Kesehatan Ginjal


Jakarta, [tanggal] — Batu ginjal masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang banyak dialami masyarakat, dengan gejala mulai dari nyeri pinggang hingga gangguan buang air kecil.

Faktor seperti kurangnya asupan air putih, konsumsi makanan tinggi garam, serta pola hidup tidak seimbang disebut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus batu ginjal di berbagai kelompok usia.

Seiring kondisi tersebut, minat masyarakat terhadap herbal pendukung kesehatan ginjal sebagai terapi pendamping pengobatan medis turut meningkat. Salah satu produk yang kerap disebut dalam konteks ini adalah RenaPro, herbal yang diformulasikan untuk mendukung
kesehatan ginjal secara alami.

Batu Ginjal dan Pentingnya Penanganan Tepat Batu ginjal terbentuk akibat penumpukan mineral dan zat sisa yang mengendap di ginjal. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan nyeri hebat, infeksi saluran
kemih, hingga penurunan fungsi ginjal secara bertahap.

Pada kondisi ringan hingga sedang, sebagian pasien memanfaatkan herbal sebagai terapi pendamping, dengan tujuan membantu melancarkan buang air kecil, mengurangi endapan mineral, serta mendukung fungsi ginjal secara bertahap.

Peran Herbal sebagai Terapi Pendamping
Tenaga kesehatan menegaskan bahwa herbal tidak berfungsi sebagai pengganti pengobatan medis. Namun, dalam praktik klinis, herbal sering digunakan sebagai pendamping untuk membantu menjaga fungsi ginjal, meringankan kerja ginjal, dan mendukung perawatan jangka panjang, selama digunakan secara tepat dan sesuai aturan.

RenaPro dan Formulasi Herbal Pendukung Ginjal RenaPro dikembangkan dengan kombinasi herbal yang dikenal dalam pengobatan tradisional dan herbal klinis, antara lain:

● Daun tempuyung, yang secara tradisional digunakan untuk membantu mendukung peluruhan endapan mineral di ginjal,

● Keji beling, yang berperan dalam mendukung proses penyaringan dan detoksifikasi
ginjal,

● Kumis kucing, herbal dengan sifat diuretik alami yang membantu melancarkan buang air kecil.

Kombinasi tersebut menjadikan RenaPro dikenal sebagai salah satu herbal pendukung kesehatan ginjal yang digunakan secara bertahap dan berkelanjutan.

Pandangan Dokter dan Apoteker
Sejumlah tenaga kesehatan menilai bahwa formulasi herbal dalam RenaPro relevan digunakan sebagai terapi pendamping pada kondisi batu ginjal ringan hingga sedang.

dr. Riyanti Maharani, M.Si (Herbal Klinis) menyampaikan bahwa kombinasi tempuyung, keji beling, dan kumis kucing dikenal dalam herbal klinis dapat membantu mendukung fungsi ginjal
dan menjaga kesehatan ginjal secara alami bila dikonsumsi sesuai aturan.

Pandangan tersebut sejalan dengan dr. Novita Qurrota, yang menekankan bahwa herbal seperti RenaPro digunakan sebagai pendamping terapi medis, bukan pengganti obat dokter.

Dari sisi kefarmasian, Apt. Ricanovisari dan Apt. Angelia Yus menilai bahwa kandungan herbal dalam RenaPro memiliki profil keamanan yang baik bila digunakan sesuai dosis, serta berperan membantu melancarkan urin dan mengurangi beban kerja ginjal.

Sementara itu, dr. Fandani Riskal menambahkan bahwa pendekatan perawatan ginjal sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, termasuk pola makan seimbang, asupan cairan yang cukup, serta gaya hidup sehat, dengan herbal sebagai bagian pendukung.

Digunakan pada Kondisi Tertentu
RenaPro umumnya digunakan oleh penderita batu ginjal ringan hingga sedang, individu dengan riwayat batu ginjal, serta pasien dengan fungsi ginjal menurun yang belum menjalani dialisis.

Untuk kondisi ginjal berat atau pasien yang menjalani cuci darah, penggunaan herbal dianjurkan melalui konsultasi dokter.

Artikel ini telah tayang di 
Media Kesehatan 

Sunday, November 16, 2025

Wujudkan Masyarakat Cerdas Kesehatan, Kibicare Libatkan Tenaga Kesehatan



Jakarta — Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami, Kibicare—lembaga pelatihan tenaga kesehatan yang telah terakreditasi Kementerian Kesehatan—meluncurkan inisiatif kolaboratif yang membuka ruang lebih luas bagi tenaga kesehatan untuk terlibat dalam edukasi publik.

Inisiatif ini tidak hanya memfokuskan diri pada peningkatan kompetensi, tetapi juga menghubungkan tenaga kesehatan dengan komunitas melalui berbagai kanal edukasi. Mulai dari media sosial, program literasi kesehatan keluarga, hingga kegiatan bersama komunitas parenting di berbagai daerah.

CEO Kibicare, Triwahyuni Ilaihi, menjelaskan bahwa peran tenaga kesehatan seharusnya tidak berhenti di ruang praktik atau fasilitas layanan kesehatan saja. “Masyarakat membutuhkan sosok profesional yang mampu menerjemahkan isu kesehatan menjadi informasi yang sederhana, relevan, dan dapat langsung diterapkan sehari-hari,” ujarnya. “Di sinilah Kibicare hadir — menjembatani tenaga kesehatan dengan ruang publik agar edukasi yang benar lebih mudah diakses.”

Peran Baru Tenaga Kesehatan

Melalui platform kolaborasi ini, tenaga kesehatan dapat membuat konten edukasi kesehatan yang terstruktur dan berbasis bukti. Konten tersebut dikemas dalam bentuk video pendek, infografis, hingga artikel ringan yang mudah diakses masyarakat luas.

Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan edukasi bersama komunitas parenting yang tersebar dari kota besar hingga daerah.

Triwahyuni menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat preventive care. “Selama ini masyarakat banyak berfokus pada pengobatan. Padahal, pencegahan dimulai dari pengetahuan yang tepat. Ketika keluarga memahami dasar-dasar kesehatan, beban penyakit dapat ditekan secara signifikan,” katanya.

Dorong Kualitas Informasi Kesehatan

Kibicare memastikan seluruh tenaga kesehatan yang terlibat dalam penyampaian edukasi telah diverifikasi, sehingga informasi yang disebarkan tetap terjaga akurasinya.

Platform ini juga memberikan kurasi konten dan pedoman komunikasi publik agar pesan kesehatan mudah dicerna tanpa mengurangi validitas klinisnya.

Menurut Triwahyuni, tantangan terbesar literasi kesehatan saat ini bukan kurangnya informasi, tetapi justru banjirnya informasi yang tidak terverifikasi. “Kami ingin mengisi ruang publik dengan informasi yang dapat dipercaya, sambil memberdayakan tenaga kesehatan agar lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Mendukung Gerakan Literasi Kesehatan Nasional

Melalui inisiatif ini, Kibicare berharap lahir ekosistem edukasi kesehatan yang lebih kolaboratif, di mana tenaga kesehatan, komunitas, dan keluarga dapat saling terhubung.

“Kami ingin memastikan setiap keluarga di Indonesia memiliki akses pada edukasi kesehatan yang benar, di mana pun mereka tinggal,” kata Triwahyuni. “Jika literasi meningkat, maka kualitas kesehatan bangsa akan meningkat pula.”

Artikel ini telah tayang di 
Media Kesehatan 

Saturday, July 26, 2025

Berapa Minimal Durasi Jalan Kaki untuk Kesehatan Jantung?

Media Kesehatan - Berapa minimal durasi jalan kaki untuk kesehatan jantung? Berjalan kaki bukan hanya aktivitas sederhana, tapi juga investasi besar bagi kesehatan jantung. 

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian dan lembaga medis ternama menyoroti bagaimana aktivitas ringan ini dapat menurunkan risiko penyakit jantung secara signifikan. 

Namun, berapa sebenarnya durasi minimal jalan kaki yang dibutuhkan untuk menjaga jantung tetap sehat?

Seseorang dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama minimal 150 menit per minggu.

Aktivitas ini bisa berupa jalan kaki, yang jika dibagi dalam seminggu, setara dengan 30 menit per hari selama 5 hari. 

Dalam laman resminya, Kemenkes menyebut bahwa durasi tersebut terbukti efektif dalam menurunkan risiko penyakit jantung Apa Itu Kesehatan Jantung?
Kemenkes RI mendefinisikan kesehatan jantung sebagai keadaan di mana struktur dan fungsi jantung berada dalam kondisi normal, sehingga organ vital ini dapat memompa darah secara maksimal ke seluruh tubuh. Definisi ini juga diperkuat oleh berbagai lembaga internasional.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut bahwa jantung yang sehat adalah jantung yang mampu memompa darah dengan kecepatan dan kekuatan normal secara berkelanjutan. 

Sementara menurut World Heart Federation (WHF), jantung yang sehat adalah jantung yang bekerja secara efisien dalam mendistribusikan darah kaya oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan dan organ tubuh.

Bagaimana Jalan Kaki Membantu?
Dilansir dari Mayo Clinic Network (2024) dan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), berjalan kaki memberikan sejumlah manfaat fisiologis bagi jantung. Berikut mekanisme kerjanya:

- Meningkatkan sirkulasi darah, sehingga jantung tidak bekerja terlalu keras.

- Menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol jahat (LDL).

- Meningkatkan elastisitas pembuluh darah, menjaga tekanan darah tetap stabil.

- Meningkatkan efisiensi kerja jantung dalam memompa darah, terutama saat tubuh sedang aktif.

- Mengurangi stres, yang merupakan salah satu pemicu utama gangguan jantung.

- Semua efek tersebut terjadi bahkan dengan jalan kaki berdurasi 20�"30 menit per hari secara rutin.

Sebuah studi dari Harvard Medical School (2017) menunjukkan bahwa jalan kaki selama 21 menit setiap hari dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 30%. 

Temuan ini sejalan dengan laporan The Lancet (2011) yang menemukan bahwa berjalan kaki 15 menit per hari secara konsisten selama bertahun-tahun dapat mengurangi risiko kematian dini sebesar 14%.

Berjalan kaki selama 30 menit per hari, minimal 5 kali seminggu, terbukti mampu menjaga dan meningkatkan kesehatan jantung. 

Dengan bantuan mekanisme alami tubuh seperti peningkatan sirkulasi dan kontrol tekanan darah, jalan kaki menjadi langkah sederhana yang punya efek luar biasa.

Sebagaimana dikatakan oleh Mayo Clinic dan WHO, aktivitas fisik rutin seperti jalan kaki dapat menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, bahkan kematian dini.

Jadi, tak perlu menunggu sakit untuk bergerak. Cukup kenakan sepatu nyaman, pilih waktu terbaik, dan mulailah berjalan demi jantung yang lebih kuat dan hidup yang lebih panjang.

Friday, July 4, 2025

Donor Darah Jadi Gaya Hidup Kekinian untuk Menunjukkan Kepedulian


Media Kesehatan — Menyadari pentingnya peran aktif dalam membantu sesama, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (BSP) kembali menggelar kegiatan donor darah berkolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi dan Bakrie Amanah (YBA).

Kegiatan kemanusiaan ini diselenggarakan pada Kamis, 3 Juli 2025, di Lantai 10 Bakrie Tower, kantor pusat PT BRMS. Aksi donor darah ini menyasar 100 peserta dari berbagai perusahaan yang berkantor di Bakrie Tower. Sebanyak 80 kantong darah berhasil dikumpulkan, sementara sebagian peserta lainnya turut memanfaatkan kesempatan untuk melakukan cek metabolik gratis.

Kegiatan ini bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga mulai menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan sosial masyarakat urban. Ida, Kepala Penanggung Jawab PMI Kabupaten Sukabumi dalam sambutannya menjelaskan bahwa sekarang ini donor darah sudah menjadi gaya hidup kekinian. 

“Saat ini donor darah sudah menjadi lifestyle, karena selain membantu orang lain, donor darah juga membawa manfaat besar bagi kesehatan tubuh kita,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari memberikan kepedulian kepada sesama. (AM)

Thursday, July 3, 2025

Siswa dan guru Sekolah Rakyat dilakukan tes kesehatan

Media Kesehatan - Para calon siswa dan guru Sekolah Rakyat di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dilakukan tes kesehatan pada Senin (7/7).

"Tes kesehatan berlangsung di aula Sentra Terpadu Kartini atau di Sekolah Rakyat Temanggung," kata Kepala Sentra Terpadu Kartini Temanggung Dewi Suhartini di Temanggung, Kamis.

Ia menyampaikan petugas yang melakukan tes kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung.

Ia menuturkan tes kesehatan dimulai pukul 06.00 WIB dan diperkirakan selesai pukul 11.00 WIB.

"Nanti dihadirkan 125 anak dan guru serta kepala sekolah untuk mengikuti tes kesehatan," katanya.

Saat ini, para pekerja yang merenovasi Sekolah Rakyat di Sentra Kartini Temanggung tengah melakukan pemasangan mebel di setiap ruangan.

"Kita sedang mempersiapkan ruangan, seperti ruang kelas dan kamar sebagian sudah ditata perabotan yang dibutuhkan, seperti tempat tidur, meja belajar sudah tertata, ruang kelas juga sedang proses penataan, kemudian di ruang makan juga seperti itu," katanya.

(QA)